Dieng, yess sebuah nama yang pastinya bakalan gua inget inget terus. Desa yang terletak dekat dengan wonosobo ini dapat kita tempuh dari jakarta menggunakan kereta berhenti di purwokerto lanjut nge bus ke dieng. Perjalanan kita kemaren diawali dengan meeting point di dunkin donut st senen jam 8 malam. Gak disangka ternyata teman teman yang join kali ini masih muda muda walau udah ada beberapa pasangan yang sudah menikah (disini kadang mereka merasa sedih).

trip backpacker ke dieng

Serayu malam, kereta yang panjang banget ini ada 6 gerbong dan kami mengisi di gerbong setelah gerbong ke 5. kereta yang tidak se jugijagijug lagu itu mulai melangkahkan roda nya dari st senen pada pukul 21.00. alhamdulilah sekali kondisi kereta saat itu tidak berdesak desak an walaupun harusnya lagi desek desekan karena lagi loong week. tidak ada penumpang yang begelimpangan di lantai gerbong karena mau tidur yang nyenyak, yaah as you know aja lah yah kereta ini memakan waktu hingga 12 jam dari jakarta ke purwokerto, silahkan gak usah temen temen bayangin gimana rasanya tidur dikursi gerbong kereta yang seadanya dengan segala keempuk an nya, gak ada bantal, guling apalagi sebatas selimut tidur, lutut pun akan beradu satu sama lain, sehingga membuat mobilitas kaki terbatas, silahkan teman teman tidak usah bayangkan.

Purwokerto, kota yang menjadi tujuan akhir perjalanan kereta kita ini berhasil kita gapai di hari kedua perjalanan pada pukul 07.38.99 detik, tepat sekali dengan jadwal kereta, dan kita bersyukur akan hal itu. di st purwokerto kita cuman sebentaran doang dan lanjut naek bus yang udah kita sewa sebelumnya untuk mengantarkan kita ke dieng. sepanjang jalan purwokerto dieng ini nampak teman teman sudah merasakan getaran yang hebat di bagian perut mereka nampak kalo mereka sudah sangat amat lapar dikarenakan tidak adanya waktu untuk sebatas mengganjal lambung dengan segenggam beras matang. kita rese kalo lagi lapar, selang 3 jam berlalu setelah menahan rasa lapar yang mendesah desah, akhirnya kita sampai di sebuah warung makan yang bernama langkring, longkring, lungkrang,duuuh salaah, susah sekali mengingat nama ini, yang benar adalah longkrang, entah nama tersebut dari raja mana yang ada di tanah jawa nii, yang jelas namanya keren banget, nanti kalo gue punya anak bakal gue kasih nama raisa kalo cewek,

credit foto ; joglosemar com
credit foto ; joglosemar com

Mie ongklok longkrang, banyak dari kami yang mungkin kurang tahu tentang ke khas an mie ongklok wonosobo, sebuah emih dengan balutan sambal kacang dan dipadu kembang kol yang ditambah beberapa daun alam serta runtuhan bawang goreng diatas nya, membuat es teh manis yang telah kita pesan sebelumnya terasa nikmat sekaliii,, aah, lega rasanyaa telah meminum air es teh manis terbaik di dunia saat itu (lah katanya tadi lapar). oyah, pesanan mie ongklok sudah jadi ditemani dengan daging sapi yang tertusuk batang bambu yang kemudian dibakar yang kemudian dinamakan sate. sejuntai sate menemani mie ongklok tersebut, kami yang dengan segala keterbatasan kami akan nafsu makan, pada akhirnya menghabiskan seluruh hidangan di meja, kecuali merica dan sambel.

credit foto ; telusurindonesia com
credit foto ; telusurindonesia com

Dieng, kenyang perut terisi makanan barusan, akhirnya kita sampai di dieng pada pukul 13.39.59 detik, datang ke sebuah desa yang kamu bakal terkagum kagum kalo desa ini ada di tengah tengah letusan gunung dan berada pada ketinggian diatas 2000 an, ini pasti dingin banget harusnya, tapi saaat itu apa yang kita dapat sangat mengecewakan, cuaca nampak begitu cerah, udara hangat beriring cahaya mentari perlahan memasuki lapisan udara dieng secara bergantian membuat desa dieng nampak indah sekali, ah sayang sekali waktu itu. 

wpid-dscn4185.jpg

Gardu pandang, tempat dimana kamu bisa melihat desa dieng dari sudut atas yang ngeliatin kalo dieng berada di tengah tengah diantara gunung gunung yang ada disekitarnya. kamu bisa ambil background pemandangan kota dieng yang asri itu

 

wpid-dscn4195.jpg

Telaga warna, suatu tempat yang kamu bakal tau banyak sejarah tentang kebudayaan keagaaman di dieng dan juga takjubnya panorama keindahan alam telaga warna ini,
telaga yang degradasi warnanya dapat terlihat ketika sinar mentari memasuki lapisan udara sana secara pas, disini banyak goa goa yang kamu bakal tau kenapa goa goa tersebut ada dimari dan ada satu goa yang konon katanya bisa ngebuat jomblo jadi single, silahkan kamu buktikan disana nanti.

Dieng plateau theater, sebuah bioskop mini dengan durasi pemutaran film sekitar 25 menit yang ternyata lebih banyak menceritakan tentang kenapa dieng itu banyak kawah nya, dampak apa dari kawah kawah tersebut, itu terlalu ilmiah buat orang orang kayak kita yang kekinian gitu sob, jadi gak heran kalo selang 5 menit di dalam, kita udah bobok bobok.

ratapan angin dieng

Ratapan angin, memang tempat yang berada di ketinggian ini terhembus angin secara pelan hingga kencang sehingga ngebuat kita akan meratapi keberadaan tersebut, iya mungkin begitu kenapa spot ini disebut ratapan angin, yang jelas disini kamu bisa poto poto buat update koleksi instagram kamu, dengan background telaga warna yang berwarna dan telaga pengilon yang coklat, its so amazing sob, kalian harus percaya. 

 

wpid-dscn4213.jpg

Kompleks candi arjuna, suatu kawasan candi yang ada di dieng ini menjadi sejarah kebudayaan keagamaan yang menakjubkan, banyak informasi budaya yang bisa kita dapatkan disini, yang pastinya ngebuat kita bangga. kita maen maen disini di sore hari, dengan penerangan cahaya yang semakin lama turun perlahan menutupi sore hari itu.

puncak gunung prau dieng

Gunung prau, salah satu gunung yang mengelilingi dieng ini menjadi spot favorit para backpacker indonesia terutama para pencandu ketinggian, dimana mereka bisa melihat si kembar sindoro sumbing di terangi golden sunrise yang pastinya keren banget dan bakalan kamu kenang terus. perjalanan ke gunung prau ini kita mulai dari homstay dieng pada pukul 01.30.38 detik. dengan berbekal makan emih kami ber 15 dan 1 orang guide dieng memberanikan diri menempuh terjalnya trek prau dan dinginnya malam. setelah semua persiapan lengkap dan makan kenyang, kami mulai melangkahkan kaki keluar homestay, merasakan dingin nya dieng malam hari dan warna warni lampu desa yang menambah semangat kita disaat itu. selang beberaap pulu menit setelah kita keluar homestay nampak ada 1 pasangan yang kondisi fisik nya sedang tidak bagus sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan ini. sementara teman teman yang lain masih bersemangat sembari terus bertanya tanya ke gue kapan kelarnya ini semua, dan saling bergantian menunggu temen lain yang kelelahan, membagi logistik sepanjang perjalanan, sungguh suatu momen membanggakan dimalam itu, dijalur pendakian prau via dieng.

gunung prau dieng

Pendakian, nampak teman teman yang lain sudah goyah fisik nya, beberapa kesempatan break di tempat yang landai kita manfaatkan untuk mengisi tenaga dan kita isi dengan canda tawa pelupa lelah. semangat terus tertahan. selang beberapa jam pendakian yang melewati ladang kebun, kemudian memasuk hutan padat, dan lanjut ke pepohonan besar akhirnya kita sebentar lagi mencapai tower , banyak yang nanya dimana tower ini berada padahal sudah sangat jelas terlihat diatas sana (biar mereka pada semangat ajah), naah sesampainya di tower ini medan yang kita lalui tidak terlalu mendaki, ada beberapa spasi yang menurun dan landai, selepasnya, kita tinggal menelusuri bukit teletubis. di sepanjang malam tadi kami berada di punggung prau satu garis jalan, kanan kiri langsung jurang dan diterangi sinar rembulan, sungguh suatu moment bahagia kami dapati.

wpid-img_20150405_054906849_hdr.jpg

Puncak prau, dengan segala tenaga yang tersisa menemani hati yang kuat ini, kami melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi akan berujung dan sang fajar siap siap menanti kita di ujung sana, di pucuk tertinggi gunung prau. selang beberapa menit kami melanjutkan langkah yang tertatih ini tibalah kami menemukan sekumpula tenda tenda yang kami melihat seperti sebuah perkampungan para pendaki, kami sangat takjub akan hal ini, ternyata masih banyak muda mudi indonesia yang cinta alam nya yang rela mendaki sejauh itu untuk menikmati keindahan alam Indonesia. begitu pun kami, 13 orang muda mudi yang akhirnya menapakaan kaki di puncak tertinggi prau menikmati lukisan Tuhan yang sangat menakjubkan, kami takjub akan mentari pagi yang perlahan muncul menerangi perkampungan kami, menghangati udara yang sedari malam tadi masih berupa dingin merasuk, dan sekarang hangat adanya. kami bersyukur akan hal ini, kami bangga tinggal di Indonesia, kami bangga menjadi warga negara Indonesia, dan kami akan menjaganya sampai titik darah penghabisan. – abdul jamaludin